bantenraya.co | TANGERANG
Madrasah Ibtidaiyah (MI) Yabika, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang terus mengokohkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan Islam, yang holistik dan berorientasi pada penguatan karakter.
Dengan jumlah peserta didik mencapai 600 siswa, MI Yabika memfokuskan pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual secara terpadu melalui berbagai program unggulan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
MI Yabika menerapkan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan tematik integratif, memberikan ruang luas bagi siswa untuk aktif, kreatif, dan berpikir kritis.
Implementasi kurikulum ini diperkuat dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan, sehingga suasana belajar menjadi aman, nyaman, dan membahagiakan bagi peserta didik.
Kepala MI Yabika, H. Agus Salam, S.Pd.I, menegaskan, pendidikan di MI Yabika tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan kepribadian anak secara utuh.
“Kami ingin anak-anak belajar dengan rasa aman dan bahagia. Ketika anak merasa dicintai dan dihargai, maka potensi intelektual, emosional, dan spiritualnya akan tumbuh secara optimal,” ujar Agus Salam.
Dalam penguatan kecerdasan intelektual, MI Yabika mengembangkan berbagai program literasi dan numerasi. Setiap kelas dilengkapi pojok baca, disertai program membaca bermakna dan one day one story untuk menumbuhkan budaya literasi sejak dini.
Pada bidang numerasi, madrasah ini menghadirkan kelas numerasi menyenangkan yang menekankan penguatan logika dan kemampuan pemecahan masalah melalui pendekatan kontekstual dan aplikatif.
Sementara itu, pengembangan sains dilakukan melalui eksperimen sains sederhana berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics).
Melalui kegiatan ini, siswa diajak belajar dengan cara mengeksplorasi, mengamati, dan mencoba secara langsung.
Dalam dimensi kecerdasan spiritual, MI Yabika memiliki program unggulan Tahfiz Al-Qur’an Juz 30 dan 29 serta tahsin . Pembiasaan shalat berjamaah, doa harian, dan pelatihan adab Islami menjadi budaya madrasah yang dijalankan secara konsisten.
Agus Salam menambahkan bahwa pembiasaan ibadah dan adab Islami menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter siswa.
“Kami ingin nilai-nilai Islam tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan dalam keseharian anak-anak di madrasah,” ujarnya.
Selain aspek spiritual dan intelektual, MI Yabika juga memberi perhatian besar pada kecerdasan emosional.
Berbagai kegiatan emosi positif seperti berbagi, peduli, dan kerja sama sosial dikemas dalam program Sekolah BERHATI (Bersih, Hijau, Sehat, dan Inovatif) yang menanamkan kepedulian terhadap diri, sesama, dan lingkungan.
Seluruh program tersebut dirangkai dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), yakni pendekatan pendidikan yang menempatkan kasih sayang, keteladanan, dan penghargaan terhadap potensi anak sebagai inti pembelajaran.
Ketua Yayasan Bina Insan Kamil, Hj. Siti Izzatu Yazidah, M.Pd, menegaskan bahwa KBC merupakan ruh dari seluruh kebijakan pendidikan di bawah naungan yayasan.
“Pendidikan harus menghadirkan cinta, bukan tekanan. Kurikulum Berbasis Cinta kami hadirkan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berakhlak, dan memiliki empati sosial yang kuat,” kata Siti Izzatu Yazidah.
Menurutnya, sinergi antara Kurikulum Merdeka, Gerakan Sekolah Menyenangkan, Sekolah BERHATI, dan Kurikulum Berbasis Cinta merupakan ikhtiar nyata untuk melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan jati diri keislamannya.
Dengan berbagai inovasi tersebut, MI Yabika menegaskan posisinya sebagai madrasah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam pembentukan karakter.
Kehadiran MI Yabika di tengah masyarakat menjadi bukti bahwa madrasah mampu menjadi pusat pendidikan yang modern, humanis, dan religius secara seimbang. (*)
Penulis : Den
Editor : Mas







