Tunduk Pada Surya Paloh, Bagaimana Anies Mau Tegakkan Daulat Rakyat?

Sabtu, 2 September 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hendri Teja

Hendri Teja

Oleh: Hendri Teja
Direktur Eksekutif Political Design

Ada yang bilang. Demokrat cabut dukungan Anies Baswedan Capres di Pilpres 2024 gara-gara AHY tidak dipilih jadi cawapres. Bagi saya, ini pandangan berbahaya. Kontradiktif dengan upaya menegakkan daulat rakyat. Pasalnya, ia menaruh Pilpres 2024 jadi sekadar urusan elit politik.

Makanya, saya jadi kepikiran. Jangan-jangan yang memainkan narasi ini musang berbulu domba. Ia adalah proxi yang disusupkan untuk meracuni gerakan perubahan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Padahal, sangat gampang menjelaskan kekecewaan kalangan pro-perubahan pada sosok Anies yang tunduk pada Surya Paloh

Pertama, terjadi penyimpangan prinsip kesetaraan di dalam Koalisi Perubahan dan Persatuan (KKP). Sadarkah Anies? Ikhtiar Surya Paloh menjodohkan Anies dan Cak Imin secara sepihak bak operasi gelap. Dan operasi gelap Surya Paloh ini adalah upaya mendominasi Anies. Juga sekaligus mengabaikan PKS dan Demokrat.

Publik sulit membayangkan Anies kelak bisa membangun kabinet yang menjunjung kesetaraan antar warga negara. Jika pada titik mula saja, Anies sudah takut melawan operasi gelap Surya Paloh yang justru mencederai prinisp kesetaraan antara parpol pengusungnya.

Kedua, terjadi penyimpangan Piagam Koalisi. Tertulis dalam Piagam Koalisi itu. Anies bebas menentukan cawapres. Dan Anies sudah memutuskan. Ia serius meminang AHY sebagai cawapresnya. Tiga kali diutarakan. Sampai bawa-bawa sang ibu segala. Sampai bikin surat tulisan tangan meminang AHY.

Baca Juga :  Analisis Terhadap Putusan MK, Tentang Pemilu Nasional dan Lokal

Wajar Demokrat marah besar. Tapi, bukan ini yang paling krusial. Publik kini bertanya-tanya. Mengapa Surya Paloh berani menekan Anies? Mengapa Nasdem melanggar Piagam Koalisi? Dan yang terpenting, mengapa Anies manut saja ketika kedaulatannya dikebiri?

Bagaimana Anies mau menegakkan daulat rakyat kalau ia gagal mempertahankan kedaulatan pribadinya?

Ada pula penyimpangan pada kriteria cawapres. Yang paling fatal pada poin 1, yaitu: “berkontribusi dalam pemenangan, diwujudkan dengan tingkat elektabilitas yang tinggi dan kerentanan politik yang rendah”

Elektabilitas Anies lemah berdasarkan 29 hasil survei terbaru. Ada di urutan buncit. Anjlok berkesinambungan. Anies butuh cawapres yang bisa mendukung pemenangan. Masalahnya, elektabilitas Cak Imin rendah. Segitu-gitu saja.

NU struktural juga kurang mesra dengan PKB Cak Imin. Betul, Cak Imin punya ceruk suara sendiri. Tapi, bukankah setahun terakhir PKB habis-habisan menjual Prabowo. Setahun terakhir, PKB juga bekerja keras melabeli Anies didukung kelompok Islam kanan-konservatif. Kini mau mengalihkan dari Prabowo ke Anies? Sungguh kerja berat.

Baca Juga :  Gus Azmi Maulidy Gelar Aksi Canvassing Day dan ajak Masyarakat Menangkan Ganjar-Mahfud

Pun sosok Cak Imin sangat rentan. Ia sempat terseret pusaran tiga kasus korupsi. Punya masalah serius dengan kalangan Gusdurian yang berurat-akar di kalangan NU kultural. Bahkan, Yenny Wahid sempat menyindir telak Cak Imin: “Gurunya saja dikudeta, apalagi rakyat?”.

Pendek kata, elektabilitas Cak Imin sukar mendongkrak kemenangan Anies. Makanya, ada yang bilang, Anies-Cak Imin sudah kalah sebelum berjuang.

Lantas, mengapa Anies memilih Cak Imin? Ada guyon yang sedang viral: pengkhianat bersama pengkhianat. Ada pula kabar angin yang bikin kita merinding. Anies ditekan Surya Paloh, dan Surya Paloh ditekan penguasa. Kompensasinya, kasus hukum Anies tidak naik plus, kalau kalah sudah tersedia kursi menteri. Kompensasi untuk Surya Paloh, bisnisnya tidak akan dipreteli, dan dua Menteri Nasdem di kabinet bakal aman.

Serem nian. Semoga saja tidak kejadian.

Namun, inilah yang bikin pengusung perubahan jadi galau. Bagaimana Anies mau menjadi lokomotif perubahan kalau sejak awal ia sudah jadi subordinat Surya Paloh? Bagaimana Anies mau menegakkan kedaulatan rakyat, kalau dirinya tersandera sehingga takut mengambil keputusan?.(*)

Berita Terkait

Sedikit Kegembiraan Di Tengah Kecemasan Catatan Hendry Ch Bangun
Catatan Politik Bamsoet Bijaksana Mengelola Potensi Energi Ketika Tatanan Global Porak Poranda
SIDONI KABUPATEN TANGERANG: INOVASI YANG PATUT DITIRU UDD DI INDONESIA
SIDONI KABUPATEN TANGERANG: INOVASI YANG PATUT DITIRU UDD DI INDONESIA
Sanksi Berat Bagi Olahraga Indonesia
Jaksa Dapat Perlakuan Khusus? Publik Patut Curiga
Memaknai Tagline “Bersyukur, Berkarya dan Berdaya” pada Hari Ulang Tahun Kabupaten Tangerang ke 393 Tahun
G30S: Sejarah yang Digelapkan dan Luka yang Belum Sembuh
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 12:08 WIB

Sedikit Kegembiraan Di Tengah Kecemasan Catatan Hendry Ch Bangun

Rabu, 14 Januari 2026 - 14:26 WIB

Catatan Politik Bamsoet Bijaksana Mengelola Potensi Energi Ketika Tatanan Global Porak Poranda

Senin, 3 November 2025 - 19:00 WIB

SIDONI KABUPATEN TANGERANG: INOVASI YANG PATUT DITIRU UDD DI INDONESIA

Sabtu, 1 November 2025 - 18:32 WIB

SIDONI KABUPATEN TANGERANG: INOVASI YANG PATUT DITIRU UDD DI INDONESIA

Senin, 27 Oktober 2025 - 12:10 WIB

Sanksi Berat Bagi Olahraga Indonesia

Berita Terbaru

Tangerang Raya

Pemkot Tangerang Tangani Tanggul Taman Cipulir dengan Cepat

Minggu, 8 Mar 2026 - 21:09 WIB

Tangerang Raya

Ngabuburit Penuh Energi: Futsal Bareng Karang Taruna Pinang

Minggu, 8 Mar 2026 - 18:54 WIB

Tangerang Raya

BATARA Tangerang Raya Gelar Buka Puasa Bersama dan Bagi Takjil

Sabtu, 7 Mar 2026 - 17:41 WIB