bantenraya.co | TANGERANG
Wali Kota Tangerang, H. Sachrudin, menegaskan bahwa partai politik harus bertransformasi menjadi lembaga pendidikan politik modern yang mampu melahirkan kader-kader cerdas, adaptif, dan berintegritas di tengah perubahan global yang semakin kompleks.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Kursus Singkat bagi Pengurus Partai Politik (Parpol) yang diinisiasi Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia di Aula Al-Amanah, Gedung Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Selasa (28/04/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sambutannya, Sachrudin menyoroti bahwa dinamika geopolitik global dan perkembangan teknologi digital kini menghadirkan perubahan besar yang berdampak langsung hingga ke kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Dinamika geopolitik global kini tidak lagi bersifat jauh. Dampaknya bisa langsung dirasakan hingga ke tingkat ekonomi masyarakat. Di sisi lain, teknologi digital mampu membentuk opini publik hanya dalam hitungan detik,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut partai politik untuk tidak lagi hanya mengandalkan pola-pola konvensional. Parpol harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman serta menjalankan peran yang lebih substansial dalam menjaga kualitas demokrasi.
“Partai politik tidak cukup hanya menjadi mesin pemenangan pemilu. Parpol harus naik kelas menjadi lembaga pendidikan politik yang modern, adaptif, dan berintegritas,” tegasnya.
Sachrudin menilai, penguatan kelembagaan partai harus dilakukan melalui tata kelola yang lebih transparan, akuntabel, dan berbasis data. Namun, modernisasi tersebut tetap harus berpijak pada nilai-nilai kebangsaan sebagai fondasi utama kehidupan demokrasi di Indonesia.
“Penguatan kelembagaan harus diiringi dengan lahirnya kader yang melek teknologi, memiliki nalar kritis, serta menjunjung tinggi integritas. Ini adalah kunci untuk menjaga kualitas demokrasi ke depan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti derasnya arus informasi di era digital yang membawa peluang besar sekaligus tantangan serius. Menurutnya, tanpa pemahaman kebangsaan yang kuat, ruang digital dapat dengan mudah menjadi lahan subur bagi disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial.
“Disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi menjadi tantangan nyata. Karena itu, partai politik harus mampu mengambil peran sebagai penjaga etika di ruang digital,” ungkapnya.
Sachrudin menegaskan bahwa media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana edukasi politik yang sehat, mencerahkan, dan memperkuat persatuan bangsa, bukan justru memperkeruh situasi sosial maupun memecah belah masyarakat.
“Media sosial harus menjadi ruang yang mencerahkan dan memperkuat persatuan, bukan memperkeruh suasana apalagi memecah belah,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Tangerang berharap partai politik dapat semakin memperkuat kapasitas organisasinya sebagai pilar demokrasi yang tidak hanya berorientasi pada kontestasi elektoral, tetapi juga berperan aktif dalam mencetak kader berkualitas, menjaga etika publik, serta membangun demokrasi yang sehat, dewasa, dan berkelanjutan. (wil/dam)







