bantenraya.co | TANGSEL
Hujan deras yang mengguyur wilayah Tangerang Selatan pada Minggu (6/4) sore kembali memicu banjir besar di Perumahan Maharta, Pondok Kacang. Dalam hitungan menit, ketinggian air mencapai 130 sentimeter, merendam rumah warga, warung, dan menyisakan lumpur serta tumpukan sampah saat air mulai surut pada Senin dini hari (7/4) sekitar pukul 03.00 WIB.
Bagi warga Maharta, banjir bukan lagi musibah tahunan. Kini, mereka harus bersiap menghadapi tamu bulanan yang selalu datang tanpa undangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau boleh nangis, saya udah nangis batin. Setiap hujan, kami panik,” ujar Bambang (50), pemilik warung pecel lele yang telah tinggal di Maharta sejak 1991. Ia mengaku telah kehilangan ketenangan hidup akibat banjir yang datang silih berganti.
Selama Maret hingga awal April 2025, kawasan Maharta sudah tiga kali terendam banjir. Warga menyebut jembatan baru yang dibangun terlalu tinggi dan mempersempit aliran kali sebagai biang keladi utama. Air pun meluap tanpa bisa mengalir lancar ke hilir.
Samratuti (60), warga lainnya, hanya bisa pasrah saat tiba di rumahnya yang sudah tergenang air. “Saya cuma sempat selamatkan bantal, sepatu. Kulkas, sofa, beras semua kerendam. Tipi untungnya nyantol di dinding,” ucapnya. Ia menggambarkan Maharta kini seperti wajan besar yang menampung air tanpa jalan keluar. “Jembatan ditinggikan tapi kami yang terendam. Seperti wajanlah. Kayak tekukan yang di sini, airnya enggak bisa keluar,” ujarnya lirih.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan, meninjau ulang proyek jembatan dan memperbaiki sistem drainase agar Maharta tak lagi menjadi langganan banjir.(hrs/kmps/hmi)







