bantenraya.co | TANGERANG
Direktur Merah Putih Stratejik Institut (MPSI), Noor Azhari, menganalisis isu Pagar Laut di Kabupaten Tangerang.
Ia menyebut, kasus ini bukan sekadar permasalahan lokal. Melainkan, mencerminkan adanya dugaan kuat permainan politik dan bisnis berskala besar, melibatkan elit di tingkat nasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu aspek yang ia soroti, relasi antara Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI, dengan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono yang dikenal memiliki hubungan sangat dekat, serta pengaruhnya dalam meruntuhkan Dinasti Atut di Banten.
Noor Azhari menduga, hubungan erat antara Sufmi Dasco memainkan peran penting dalam dinamika politik Banten, dalam pengaturan strategi untuk memenangkan Andra Soni sebagai Gubernur Banten terpilih.
“Keterlibatan Dasco menjadi kunci dalam memahami bagaimana Dinasti Atut, yang kuat secara politik bisa tumbang,” ujar Noor Azhari.
Menurutnya, Dasco sebagai politisi ulung nasional sangat khatam peta wilayah Banten.
“Dasco ini politisi ulung, dia menjadi anggota DPR RI melalui Dapil III Banten sejak 2014. Artinya, kini masuk periode yang ketiga sangat paham sekali wilayah Banten,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengutarakan, posisi Trenggono sebagai Menteri KKP yang mengelola kebijakan strategis di sektor kelautan dan perikanan, menempatkannya pada posisi yang berpengaruh, terutama terkait dengan proyek strategis yang melibatkan kawasan pesisir dan reklamasi.
“Isu Pagar Laut Tangerang tak bisa dilepaskan dari konteks pengelolaan sumber daya pesisir. Kepentingan bisnis dan politik di balik proyek ini sangat mungkin, dugaan berkelindan dengan kebijakan KKP,” tambahnya.
Noor Azhari mencatat, bagaimana Sufmi Dasco Ahmad, seorang politisi senior Partai Gerindra, aktif mendukung Andra Soni dalam merebut tampuk kekuasaan di Banten.
Ia menduga, ada kepentingan besar terkait potensi ekonomi kawasan reklamasi, termasuk proyek strategis nasional seperti Pantai Indah Kapuk 2 (PIK2), yang menjadi magnet bagi berbagai kelompok kepentingan.
“Relasi Dasco dengan Trenggono bisa saja dimanfaatkan untuk memperkuat pengaruh di sektor pesisir, termasuk wilayah reklamasi yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi,” jelasnya.
Terkait dengan tumbangnya Dinasti Atut, Noor Azhari menilai, ada strategi politik yang dirancang untuk menggulingkan kekuasaan lama dan menggantinya dengan rezim baru yang dianggap lebih sejalan dengan kepentingan tertentu.
“Kemenangan Andra Soni bukan hanya soal kompetisi politik biasa. Ini mencerminkan keberhasilan manuver politik, yang didukung oleh kekuatan di luar Banten, termasuk jejaring politik di tingkat nasional,” ujarnya.
Ia menyoroti, isu Pagar Laut Tangerang bukan semata persoalan geografis, tetapi juga rekayasa sosial-politik untuk mendukung agenda bisnis tertentu.
“Apakah relasi antara Dasco dan Trenggono turut memengaruhi kebijakan-kebijakan strategis di wilayah ini? Ini pertanyaan yang harus dijawab dengan transparansi dan investigasi mendalam,” kata Noor Azhari.
Lebih jauh, Noor Azhari mengingatkan, proyek strategis seperti reklamasi dan pengelolaan kawasan pesisir harus mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan apapun.
Ia khawatir jika pengaruh politik dan bisnis dibiarkan tanpa pengawasan, maka masyarakat lokal terutama nelayan akan menjadi pihak yang paling dirugikan.
“Ketika kepentingan bisnis dan politik mengesampingkan kepentingan rakyat, yang kita lihat hanyalah perampasan sumber daya atas nama pembangunan,” tegasnya.
Ia mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas keterlibatan semua pihak, termasuk kemungkinan adanya kolusi antara elit politik dan pengusaha dalam kasus ini.
“Relasi-relasi ini harus diungkap dengan jelas, sehingga publik tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik layar,” tambahnya.
Kasus ini, menurut Noor Azhari, menjadi cermin bagaimana kekuatan politik lokal dan nasional dapat digunakan untuk memanipulasi kebijakan demi kepentingan segelintir orang.
“Jika relasi politik dan bisnis semacam ini terus dibiarkan, maka kepentingan rakyat akan semakin terpinggirkan. Negara harus hadir untuk memastikan bahwa keadilan dan transparansi tetap menjadi prioritas utama,” pungkasnya. (*)
Penulis : Mar
Editor : Chan







