Kisruh Pagar Laut, MPSI Soroti Relasi Politik dan Dugaan Kepentingan Bisnis

Jumat, 24 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

bantenraya.co | TANGERANG

Direktur Merah Putih Stratejik Institut (MPSI), Noor Azhari, menganalisis isu Pagar Laut di Kabupaten Tangerang.

Ia menyebut, kasus ini bukan sekadar permasalahan lokal. Melainkan, mencerminkan adanya dugaan kuat permainan politik dan bisnis berskala besar, melibatkan elit di tingkat nasional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu aspek yang ia soroti, relasi antara Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI, dengan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono yang dikenal memiliki hubungan sangat dekat, serta pengaruhnya dalam meruntuhkan Dinasti Atut di Banten.

Noor Azhari menduga, hubungan erat antara Sufmi Dasco memainkan peran penting dalam dinamika politik Banten, dalam pengaturan strategi untuk memenangkan Andra Soni sebagai Gubernur Banten terpilih.

“Keterlibatan Dasco menjadi kunci dalam memahami bagaimana Dinasti Atut, yang kuat secara politik bisa tumbang,” ujar Noor Azhari.

Menurutnya, Dasco sebagai politisi ulung nasional sangat khatam peta wilayah Banten.

“Dasco ini politisi ulung, dia menjadi anggota DPR RI melalui Dapil III Banten sejak 2014. Artinya, kini masuk periode yang ketiga sangat paham sekali wilayah Banten,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengutarakan, posisi Trenggono sebagai Menteri KKP yang mengelola kebijakan strategis di sektor kelautan dan perikanan, menempatkannya pada posisi yang berpengaruh, terutama terkait dengan proyek strategis yang melibatkan kawasan pesisir dan reklamasi.

Baca Juga :  Dadap Dilanda Banjir Rob, Ribuan Warga Butuh Bantuan

“Isu Pagar Laut Tangerang tak bisa dilepaskan dari konteks pengelolaan sumber daya pesisir. Kepentingan bisnis dan politik di balik proyek ini sangat mungkin, dugaan berkelindan dengan kebijakan KKP,” tambahnya.

Noor Azhari mencatat, bagaimana Sufmi Dasco Ahmad, seorang politisi senior Partai Gerindra, aktif mendukung Andra Soni dalam merebut tampuk kekuasaan di Banten.

Ia menduga, ada kepentingan besar terkait potensi ekonomi kawasan reklamasi, termasuk proyek strategis nasional seperti Pantai Indah Kapuk 2 (PIK2), yang menjadi magnet bagi berbagai kelompok kepentingan.

“Relasi Dasco dengan Trenggono bisa saja dimanfaatkan untuk memperkuat pengaruh di sektor pesisir, termasuk wilayah reklamasi yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi,” jelasnya.

Terkait dengan tumbangnya Dinasti Atut, Noor Azhari menilai, ada strategi politik yang dirancang untuk menggulingkan kekuasaan lama dan menggantinya dengan rezim baru yang dianggap lebih sejalan dengan kepentingan tertentu.

“Kemenangan Andra Soni bukan hanya soal kompetisi politik biasa. Ini mencerminkan keberhasilan manuver politik, yang didukung oleh kekuatan di luar Banten, termasuk jejaring politik di tingkat nasional,” ujarnya.

Ia menyoroti, isu Pagar Laut Tangerang bukan semata persoalan geografis, tetapi juga rekayasa sosial-politik untuk mendukung agenda bisnis tertentu.

Baca Juga :  Musda Ke VIll HIPMI Banten, Aden Dorong Ekonomi Muda Bangkit

“Apakah relasi antara Dasco dan Trenggono turut memengaruhi kebijakan-kebijakan strategis di wilayah ini? Ini pertanyaan yang harus dijawab dengan transparansi dan investigasi mendalam,” kata Noor Azhari.

Lebih jauh, Noor Azhari mengingatkan, proyek strategis seperti reklamasi dan pengelolaan kawasan pesisir harus mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan apapun.

Ia khawatir jika pengaruh politik dan bisnis dibiarkan tanpa pengawasan, maka masyarakat lokal terutama nelayan akan menjadi pihak yang paling dirugikan.

“Ketika kepentingan bisnis dan politik mengesampingkan kepentingan rakyat, yang kita lihat hanyalah perampasan sumber daya atas nama pembangunan,” tegasnya.

Ia mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas keterlibatan semua pihak, termasuk kemungkinan adanya kolusi antara elit politik dan pengusaha dalam kasus ini.

“Relasi-relasi ini harus diungkap dengan jelas, sehingga publik tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik layar,” tambahnya.

Kasus ini, menurut Noor Azhari, menjadi cermin bagaimana kekuatan politik lokal dan nasional dapat digunakan untuk memanipulasi kebijakan demi kepentingan segelintir orang.

“Jika relasi politik dan bisnis semacam ini terus dibiarkan, maka kepentingan rakyat akan semakin terpinggirkan. Negara harus hadir untuk memastikan bahwa keadilan dan transparansi tetap menjadi prioritas utama,” pungkasnya. (*)

Penulis : Mar

Editor : Chan

Berita Terkait

DPRD Kab Tangerang Bakal Panggil Dinas Pendidikan Krisis Daya Tampung SMP Negeri
Gerak Cepat! Kebocoran Pipa di Cisauk Ditangani Perumdam TKR
Kejari Lebak Tegaskan Komitmen Berantas Korupsi
16 Prajurit Korem 052/Wkr Naik Pangkat, Laporan Korps Dipimpin Kasrem
DPRD Apresiasi Pemkab Tangerang
Operasi Ketupat Maung 2026, Pelanggaran dan Kecelakaan Menurun
Peringati Nuzulul Qur’an, Perumdam TKR Gelar Santunan Anak Yatim dan Buka Bersama
Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan Bersama Anggota DPR RI Komisi I Fraksi PAN Okta Kumala Dewi di Tigaraksa
Berita ini 78 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 15:15 WIB

DPRD Kab Tangerang Bakal Panggil Dinas Pendidikan Krisis Daya Tampung SMP Negeri

Jumat, 10 April 2026 - 13:19 WIB

Gerak Cepat! Kebocoran Pipa di Cisauk Ditangani Perumdam TKR

Kamis, 9 April 2026 - 13:34 WIB

Kejari Lebak Tegaskan Komitmen Berantas Korupsi

Rabu, 1 April 2026 - 14:39 WIB

16 Prajurit Korem 052/Wkr Naik Pangkat, Laporan Korps Dipimpin Kasrem

Selasa, 31 Maret 2026 - 13:44 WIB

DPRD Apresiasi Pemkab Tangerang

Berita Terbaru

headline

Menurut Maryono, Talenta yang Tepat Tentukan Kinerja

Jumat, 17 Apr 2026 - 11:19 WIB