bantenraya.co | TANGERANG
Memelihara burung perkutut menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat Balaraja.
Burung dikenal dengan kicauannya yang lembut, serta menenangkan ini bukan hanya sekadar hewan peliharaan, tetapi juga menjadi simbol keharmonisan, ketenangan, dan kebijaksanaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Halimi Ciming, penghobi burung perkutut Tangerang memaparkan, memelihara perkutut memberikan rasa damai dan kebahagiaan tersendiri.
“Burung perkutut itu istimewa, karena suaranya yang khas dan iramanya yang lembut. Mendengarkan suara perkutut setiap pagi bisa membuat hati tenang dan pikiran jadi lebih jernih,” ujar Halimi Ciming.
Mantan Ketua KOK Kecamatan Balaraja ini menambahkan, bagi banyak orang, memelihara perkutut bukan sekadar hobi, tetapi juga cara untuk mendekatkan diri dengan alam dan memahami makna kehidupan.
“Perkutut harus diberikan pakan yang seimbang dan kandang yang bersih, agar tetap sehat dan bisa berkicau dengan baik. Selain itu, perhatian dan kasih sayang dari pemilik juga sangat penting. Perkutut adalah burung yang peka, mereka bisa merasakan emosi dan energi dari pemiliknya,” ujarnya.
Ia menekankan, pentingnya memberikan waktu untuk bercengkerama dengan burung agar hubungan antara pemilik dan perkutut semakin kuat.
Halimi Ciming memaparkan, hobi memelihara perkutut juga memiliki nilai spiritual dan filosofis yang mendalam.
“Dalam budaya Sunda Balaraja, perkutut sering kali dianggap sebagai simbol kedamaian dan keseimbangan. Banyak orang percaya memelihara perkutut bisa membawa keberuntungan dan harmoni dalam rumah tangga,” ucap Halimi Ciming.
Ia juga menyebutkan, suara kicauan perkutut sering digunakan dalam meditasi atau latihan relaksasi karena efeknya yang menenangkan.
“Memelihara perkutut cara menemukan ketenangan di tengah kesibukan dan menemukan makna dibalik suara yang sederhana,” ungkap Halimi Ciming. (*)
Penulis : Mas
Editor : Mas







