UNTIRTA Giatkan Revolusi Teknologi Pesisir: Data Jadi Senjata Baru Nelayan Argawana

Senin, 24 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bantenraya.co | SERANG

Di tengah tekanan perubahan iklim yang semakin nyata, para nelayan tradisional Indonesia menghadapi tantangan baru: cuaca yang kian tidak menentu, pergeseran pola arus laut, hingga anomali musim yang memengaruhi keberadaan ikan. Situasi ini bukan hanya dialami nelayan di wilayah-wilayah besar, tetapi juga komunitas pesisir kecil seperti Desa Argawana, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang.

Menjawab kebutuhan itu, tim dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) melaksanakan pelatihan teknologi pemantauan lingkungan pesisir yang melibatkan lebih dari lima puluh nelayan Argawana. Kegiatan yang berlangsung pada Oktober-November 2025 ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat bertema Integrasi Pengetahuan Sains dan Kearifan Lokal untuk Konservasi Ekosistem Pesisir, sebuah inisiatif yang memperoleh dukungan pendanaan dari Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pelatihan ini memperkenalkan perangkat teknologi yang selama ini lebih lazim digunakan dalam dunia penelitian dan industri perikanan modern. Mulai dari weather station untuk membaca kondisi atmosfer secara real-time, refraktometer untuk menganalisis karakteristik perairan, hingga alat uji salinitas dan pH yang menjadi indikator penting kesehatan laut. Kehadiran alat-alat tersebut membuka ruang baru bagi nelayan Argawana: memasuki era pengambilan keputusan berbasis data.

Ketua tim kegiatan, Mahpudin, menyebut bahwa pelatihan ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk menjembatani gap antara pengetahuan tradisional dan dinamika perubahan iklim. Menurutnya, kemampuan membaca tanda-tanda alam selama ini menjadi kekuatan nelayan tradisional. Namun situasi cuaca yang semakin ekstrem membuat pendekatan tersebut tidak lagi memadai untuk mengantisipasi risiko di laut.

Baca Juga :  Gubernur Banten Harap KONI Cetak Atlet Level Internasional

“Nelayan kita sebenarnya sangat adaptif, tetapi kondisi iklim kini bergerak jauh lebih cepat daripada pola lama. Data ilmiah menjadi kompas tambahan yang bisa menyelamatkan nyawa,” ujar Mahpudin. Ia menegaskan bahwa program ini tidak berniat menggantikan kearifan lokal, tetapi memperkuatnya melalui pendekatan citizen science—model pembelajaran yang mendorong masyarakat menjadi produsen sekaligus pengguna data ilmiah.

Di lapangan, antusiasme warga terlihat nyata. Para nelayan tidak hanya mempelajari teori, tetapi langsung mempraktikkan penggunaan alat-alat tersebut. Mereka membaca hasil pengukuran cuaca dari weather station, mencoba refraktometer melalui simulasi, serta menguji sampel air laut menggunakan alat salinitas dan pH. Keseluruhan proses dirancang agar teknologi yang biasanya identik dengan laboratorium sains dapat digunakan dalam konteks keseharian nelayan tradisional.

Ali, Ketua Kelompok Nelayan Argawana, mengakui bahwa pelatihan ini menjawab keresahan yang selama ini mereka alami. Ia menyebut bahwa pengalaman turun-temurun memang penting, tetapi perubahan cuaca yang tiba-tiba kerap membuat keputusan melaut menjadi pertaruhan besar. “Dengan alat seperti weather station dan refraktometer, kami tidak lagi menebak-nebak. Kami bisa melihat kondisi laut secara lebih jelas,” ujarnya. “Ini bukan hanya soal hasil tangkapan, tetapi soal keselamatan.”

Program ini tidak berhenti pada pelatihan satu hari. UNTIRTA menyiapkan pendampingan berkala, termasuk monitoring pencatatan harian oleh nelayan, evaluasi bulanan, serta publikasi data melalui papan informasi cuaca desa. Seluruh data yang dihasilkan tidak hanya bermanfaat bagi nelayan, tetapi juga dapat mendukung pemerintah desa, dinas teknis, hingga lembaga riset sebagai informasi dasar perencanaan pesisir.

Baca Juga :  Jambore Kader Kesehatan Resmi Dibuka Ketua TP Posyandu Tangerang

Di tengah wacana besar mengenai transformasi digital, modernisasi sektor kelautan, dan penguatan literasi saintifik, program ini menunjukkan bagaimana intervensi teknologi yang sederhana namun tepat sasaran dapat membawa dampak besar bagi komunitas akar rumput. Pendekatan ko-kreasi yang digunakan memastikan bahwa transfer teknologi tidak bersifat top-down, tetapi dibangun melalui dialog dan adaptasi yang menghormati cara hidup masyarakat pesisir.
Dalam konteks nasional, inisiatif yang dilakukan UNTIRTA ini selaras dengan agenda pemerintah untuk memperkuat ketangguhan masyarakat pesisir—sektor yang menjadi ujung tombak ketahanan pangan laut Indonesia. Di tengah ketidakpastian iklim global, program seperti ini menegaskan bahwa adaptasi bukan hanya soal infrastruktur besar, tetapi juga peningkatan kapasitas komunitas yang hidup paling dekat dengan sumber daya laut.

Dengan masuknya teknologi pemantauan lingkungan ke desa-desa pesisir seperti Argawana, nelayan tidak hanya menjadi pengguna informasi, tetapi bagian dari ekosistem data nasional. Penguatan citizen science dalam konteks pesisir dapat menjadi model baru untuk membaca perubahan iklim secara lebih presisi, sekaligus mendorong strategi pengelolaan laut yang lebih inklusif dan berbasis pengetahuan.

Program ini menjadi salah satu contoh konkret bagaimana perguruan tinggi dapat berada di garis depan dalam menghubungkan sains, teknologi, dan masyarakat. Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa upaya memperkuat ketahanan pesisir tidak melulu membutuhkan teknologi canggih—yang diperlukan adalah teknologi yang tepat, relevan, dan dapat dioperasikan langsung oleh masyarakat. Di Puloampel, langkah kecil itu telah dimulai. (Hed).

Berita Terkait

Polisi Bongkar Modus Oplosan LPG 3 Kg ke 12 Kg di Lebak
Banten Siap Jadi Tuan Rumah Kejurnas Catur 2026
Wagub Minta BAZNAS Banten Buat Terobosan Program Zakat
Wagub Banten Ajak Kaum Perempuan Produktif Berwirausaha
Pemkot Serang Musnahkan 2.829 Botol Miras Hasil Razia
Banten Marathon Jadi Magnet Sport Tourism Daerah
Indikator Makro Banten 2025 Tunjukkan Tren Membaik
Operasi Ketupat Maung 2026, Pelanggaran dan Kecelakaan Menurun
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 13:47 WIB

Polisi Bongkar Modus Oplosan LPG 3 Kg ke 12 Kg di Lebak

Selasa, 14 April 2026 - 13:45 WIB

Banten Siap Jadi Tuan Rumah Kejurnas Catur 2026

Rabu, 8 April 2026 - 15:27 WIB

Wagub Minta BAZNAS Banten Buat Terobosan Program Zakat

Selasa, 7 April 2026 - 11:54 WIB

Wagub Banten Ajak Kaum Perempuan Produktif Berwirausaha

Selasa, 7 April 2026 - 11:48 WIB

Pemkot Serang Musnahkan 2.829 Botol Miras Hasil Razia

Berita Terbaru

headline

SDN Daan Mogot 3 Matangkan Persiapan TKA Gelombang Pertama

Jumat, 17 Apr 2026 - 14:38 WIB

headline

Polisi Bongkar Modus Oplosan LPG 3 Kg ke 12 Kg di Lebak

Jumat, 17 Apr 2026 - 13:47 WIB

Budaya

Pemkab Lebak Matangkan Persiapan Seba Baduy 2026

Jumat, 17 Apr 2026 - 13:45 WIB

headline

Raker Jadi Arah Baru KORPRI Tangerang

Jumat, 17 Apr 2026 - 13:43 WIB

headline

DPUPR Terunkan Kendaraan Vakum untuk Normalisasi Drainase

Jumat, 17 Apr 2026 - 13:41 WIB