bantenraya.co | LEBAK
Kelangkaan minyak goreng bersubsidi merek Minyakita kembali terjadi di sejumlah pasar tradisional, menyebabkan harga melambung hingga Rp18 ribu per liter. Kondisi ini dirasakan di beberapa daerah, termasuk Pasar Sampai, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak.
Warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan Minyakita, terutama menjelang bulan Ramadan ketika kebutuhan minyak goreng meningkat. Berdasarkan pantauan di beberapa pasar di Lebak, stok Minyakita mulai berkurang sejak awal Februari 2025.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa pedagang mengaku hanya menerima pasokan terbatas dari distributor, sehingga mereka harus membatasi penjualan kepada pelanggan. “Biasanya bisa dapat lima hingga sepuluh dus dalam sekali kirim, sekarang paling banyak hanya tiga dus. Itu pun cepat habis dalam hitungan jam,” ujar Nurhasanah, pedagang di Pasar Rangkasbitung, kemarin.
Kondisi ini menyebabkan kenaikan harga Minyakita, yang sebelumnya berkisar antara Rp14 ribu hingga Rp17 ribu per liter, kini mencapai Rp18 ribu. Para ibu rumah tangga yang mengandalkan Minyakita sebagai pilihan lebih terjangkau pun mengeluhkan lonjakan harga tersebut.
“Minyakita biasanya lebih murah dan lebih terjangkau bagi kami yang penghasilannya pas-pasan. Sekarang cari saja sudah susah, kalau ada pun harganya mahal,” kata Sri Wahyuni, warga Kecamatan Warunggunung.
Dampak kelangkaan ini juga dirasakan para pedagang makanan. Siti Rohmah, penjual gorengan, mengaku harus mengurangi produksi akibat kenaikan harga minyak. “Dulu bisa beli satu jerigen untuk seminggu, sekarang harus lebih irit. Kalau harga terus naik, kami terpaksa menaikkan harga jual gorengan,” keluhnya.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab pasti kelangkaan Minyakita dan langkah yang akan diambil untuk mengatasi permasalahan ini. Warga berharap pemerintah segera turun tangan untuk memastikan ketersediaan dan stabilisasi harga minyak goreng bersubsidi di pasaran. (eem/FB/ris)







