G30S: Sejarah yang Digelapkan dan Luka yang Belum Sembuh

Rabu, 1 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Rosyid Warisman
(Aktivis Prodem dan Akedemisi)

Lebih dari lima dekade setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, narasi resmi tentang siapa dalang sebenarnya masih menyisakan tanda tanya besar. Selama 32 tahun berkuasa, Orde Baru menegaskan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah pelaku tunggal kudeta berdarah. Cerita itu disebarkan melalui film wajib tonton Pengkhianatan G30S/PKI, kurikulum sekolah, hingga media massa.

Namun, buku G30S: Sejarah yang Digelapkan, Tangan Berdarah CIA dan Rezim Suharto karya Harsutejo menawarkan pandangan berbeda. Penulis sekaligus akademisi ini mengajak pembaca melihat sisi lain yang selama ini ditutupi: keterlibatan asing, intrik militer, serta penderitaan korban yang terpinggirkan dari sejarah resmi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejarah Versi Pemenang

Menurut Harsutejo, apa yang diajarkan selama puluhan tahun hanyalah “sejarah pemenang”. Tuduhan terhadap PKI dipakai sebagai alat politik untuk melegitimasi lahirnya rezim baru. Narasi itu begitu dominan hingga suara-suara alternatif, termasuk dari para penyintas, tak pernah mendapat ruang.

“Sejarah resmi adalah sejarah yang digelapkan,” tulis Harsutejo. Baginya, banyak fakta penting sengaja dihapus, sementara propaganda dikerahkan untuk menanamkan kebencian massal terhadap kelompok tertentu.

Bayang-Bayang CIA dan Perang Dingin

Salah satu bagian paling kontroversial dalam buku ini adalah dugaan keterlibatan Amerika Serikat melalui CIA. Latar belakangnya jelas: Perang Dingin. Washington memandang Indonesia sebagai negara strategis, dan kedekatan Soekarno dengan blok Timur dianggap ancaman.

Baca Juga :  Hari Juang Polri: Refleksi Sejarah dalam Menguatkan Pengabdian Bagi Negeri

PKI, yang saat itu menjadi partai komunis terbesar di luar Tiongkok dan Uni Soviet, memperkuat ketakutan itu. Harsutejo menuding, dukungan logistik, informasi intelijen, bahkan daftar nama target pembersihan mengalir dari Barat ke kelompok militer Indonesia yang anti-komunis.

Intrik di Dalam Negeri

Namun G30S tak bisa dilihat hanya sebagai operasi asing. Di dalam negeri, situasi politik juga sangat rapuh. Soekarno berusaha menjaga keseimbangan antara kekuatan Nasionalis, Agama, dan Komunis (Nasakom). Sementara itu, Angkatan Darat terbelah dengan kepentingan yang berbeda-beda.

Suharto, yang kala itu menjabat Panglima Kostrad, digambarkan Harsutejo sebagai sosok yang jeli membaca peluang. Dari pusaran krisis, ia muncul sebagai pemenang politik. “G30S adalah momentum yang dimanfaatkan Suharto untuk naik ke tampuk kekuasaan,” tegas Harsutejo.

Tragedi Kemanusiaan 1965

Peristiwa pasca-G30S lebih mengerikan daripada kudeta itu sendiri. Ratusan ribu orang dibantai, jutaan lainnya dipenjara atau dikucilkan tanpa proses hukum. Banyak keluarga kehilangan anggota, sementara stigma “eks-PKI” melekat hingga generasi berikutnya.

Harsutejo menyebutnya sebagai “genosida politik” terbesar abad ke-20 di Asia Tenggara. Namun, tragedi itu tak pernah diadili, bahkan cenderung dilupakan.

Baca Juga :  Inkonsistensi Kebijakan Menggerus Kepercayaan, LPJK Harus Bertransformasi

Sejarah yang Perlu Dibuka Kembali

Melalui bukunya, Harsutejo menyerukan rekonstruksi ulang sejarah 1965. Menurutnya, bangsa Indonesia tak bisa terus hidup dalam bayang-bayang propaganda. Hanya dengan membuka dokumen, mendengar kesaksian korban, dan membaca berbagai sumber secara kritis, kebenaran dapat didekati.

Bagi Harsutejo, mengungkap “sejarah yang digelapkan” bukan sekadar urusan akademis. Ia adalah langkah moral untuk menyembuhkan luka bangsa, memberikan pengakuan kepada korban, serta mencegah tragedi serupa terulang.

Menggugat Ingatan Kolektif

Buku ini, meski menuai pro dan kontra, menghadirkan tantangan besar bagi ingatan kolektif bangsa. Ia menegaskan bahwa peristiwa G30S jauh lebih kompleks daripada sekadar dalih “PKI dalang tunggal”. Ada intrik politik domestik, intervensi asing, dan penderitaan rakyat yang terlalu lama dikubur.

Sejarah, tulis Harsutejo, tak boleh terus digelapkan. Ia harus dibuka, ditulis ulang dengan jujur, dan dijadikan pelajaran bagi generasi mendatang.

Kesimpulan

G30S: Sejarah yang Digelapkan adalah buku penting untuk memahami bahwa sejarah Indonesia tak pernah hitam putih. Ia penuh intrik, kepentingan, dan luka kemanusiaan. Dengan membacanya, publik diajak untuk menolak indoktrinasi tunggal, sekaligus menyadari bahwa kebenaran sejarah adalah hak bangsa.

Berita Terkait

Sedikit Kegembiraan Di Tengah Kecemasan Catatan Hendry Ch Bangun
Catatan Politik Bamsoet Bijaksana Mengelola Potensi Energi Ketika Tatanan Global Porak Poranda
SIDONI KABUPATEN TANGERANG: INOVASI YANG PATUT DITIRU UDD DI INDONESIA
SIDONI KABUPATEN TANGERANG: INOVASI YANG PATUT DITIRU UDD DI INDONESIA
Sanksi Berat Bagi Olahraga Indonesia
Jaksa Dapat Perlakuan Khusus? Publik Patut Curiga
Memaknai Tagline “Bersyukur, Berkarya dan Berdaya” pada Hari Ulang Tahun Kabupaten Tangerang ke 393 Tahun
Antara Parcok (Partai Coklat) dan Param Kocok
Berita ini 58 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 12:08 WIB

Sedikit Kegembiraan Di Tengah Kecemasan Catatan Hendry Ch Bangun

Rabu, 14 Januari 2026 - 14:26 WIB

Catatan Politik Bamsoet Bijaksana Mengelola Potensi Energi Ketika Tatanan Global Porak Poranda

Senin, 3 November 2025 - 19:00 WIB

SIDONI KABUPATEN TANGERANG: INOVASI YANG PATUT DITIRU UDD DI INDONESIA

Sabtu, 1 November 2025 - 18:32 WIB

SIDONI KABUPATEN TANGERANG: INOVASI YANG PATUT DITIRU UDD DI INDONESIA

Senin, 27 Oktober 2025 - 12:10 WIB

Sanksi Berat Bagi Olahraga Indonesia

Berita Terbaru