bantenraya.co | TANGSEL
Pemerintah Kota Tangerang Selatan tak tinggal diam dalam menghadapi persoalan stunting. Melalui Dinas Kesehatan, Pemkot meluncurkan 35 program terintegrasi untuk mempercepat penurunan kasus gizi kronis yang menjangkau seluruh kelompok usia rentan, mulai dari ibu hamil hingga remaja putri.
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie menegaskan komitmen kuat Pemkot Tangsel dalam menangani isu stunting secara menyeluruh dan berkelanjutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, upaya yang dilakukan bukan hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga melibatkan berbagai sektor pendukung.
“Kita komitmen ya Pemerintah Kota Tangerang Selatan ini terus melakukan upaya penurunan angka stunting. Banyak program yang sudah kita luncurkan, sekitar 35 program dan kegiatan untuk mencegah stunting ini,” ujar Benyamin usai menghadiri Rapat Paripurna di Kantor DPRD Kota Tangsel pada Rabu (25/6/2025).
Ia menyebut, beberapa program yang telah dijalankan, di antaranya pemberian makanan tambahan di Posyandu, pemeriksaan kesehatan sejak dini, serta penguatan sarana dan prasarana kesehatan. Tak hanya itu, program-program tersebut turut melibatkan berbagai element masyarakat.
“Yang turun itu tidak hanya pemerintah kota, tetapi Kota Sehat, PKK, dan organisasi-organisasi masyarakat lainnya yang ikut memberikan penyuluhan atau berbagai intervensi untuk menurunkan angka stunting ini,” jelasnya.
Dalam waktu dekat, Benyamin berharap angka stunting di Tangsel bisa turun mencapai 7 persen.
Senada dengan Benyamin, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan mengatakan, langkah-langkah strategis dilakukan untuk menekan angka stunting. meski terlihat ada kenaikan sedikit namun hal ini tidak boleh diabaikan.
“Mulai dari ibu hamil, bagaimana saat mereka melahirkan. Mereka melahirkan di fasilitas-fasilitas kesehatan, puskesmas, lalu dari lingkungan-lingkungan kita ciptakan supaya perkampungan-perkampungan kota kita nyaman, makanya ada program bedah rumah kan,” ujarnya.
Selain itu, Pilar menyebut program dari pemerintah pusat juga tentu membantu dalam menekan angka stunting. Salah satunya terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Lalu juga program Pemkot Tangsel terkait pos gizi yang diadakan hampir di semua kelurahan. Jadi anak yang stunting atau malnutrisi, kita tangani di pos gizi, kita kasih makanan yang sehat dimana anggarannya dari Pemkot Tangsel,” katanya.
Pilar juga menilai penting untuk bisa mencari penyebab kenaikan stunting di Kota Tangsel. Sehingga menurutnya nantinya bisa ditemukan langkah-langkah strategis yang akan diambil mengatasi persoalan tersebut.
“Dulu sempat 19 persen, kita turun ke 9, karena adanya penambahan penilaian standar jadi terjadi peningkatan di seluruh daerah termasuk di Tangsel. Tapi insyaallah itu menjadi evaluasi buat kita, tambahan standar penilaian itu bisa kita penuhi,” terangnya.
Namun ia juga meminta langkah strategis yang selama ini dilakukan harus tetap dilaksanakan dan dioptimalkan. Diantaranya yakni pemberian pemberian obat anti-anemia, suplemen penambah darah untuk remaja, serta treatment khusus sebelum menikah supaya memastikan remaja tidak mengalami penurunan produktivitas nantinya.
Pilar berharap melalui kegiatan rembuk stunting ini, seluruh pihak terkait dapat bekerja sama dan menemukan solusi efektif untuk menekan angka stunting di Tangerang Selatan. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperbaiki kondisi kesehatan anak-anak di Tangerang Selatan.
“Semua langkahnya kita lakukan. Semua dinas harus kerja menangani stunting ini. Bahkan sampai Kominfo juga itu kerja menangani stunting. Salah satunya lewat sosialisasi melalui media, media luar ruang, media massa,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, dr. Allin Hendalin Mahdaniar menyampaikan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu lama, sehingga masalah ini dapat dicegah jika intervensi dilakukan sejak dini dan menyeluruh.
Penanganan stunting tidak cukup hanya dengan pemberian makanan tambahan, tetapi perlu pendekatan lintas sektor dan edukasi berkelanjutan dengan berbagai program yang sudah kita jalankan saat ini.
Dr. Allin menjelaskan, berbagai faktor risiko seperti kurangnya energi kronis pada ibu hamil, anemia, pola makan tidak seimbang, paparan asap rokok, urbanisasi penduduk dan pemahaman yang rendah terhadap penyebab stunting.
Oleh karena itu, Pemkot Tangsel menggerakkan 35 program terpadu, termasuk kunjungan rumah oleh Tim Ngiler Sehat, pembentukan Pos Gizi di tiap kelurahan, pemberian makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil, hingga pelatihan menyusui dan pemantauan tumbuh kembang balita untuk tenaga kesehatan, guru, dan kader.
Berbagai pelatihan lainnya seperti skrining deteksi intervensi dini tumbuh kembang, manajemen terpadu balita sakit dan gizi buruk bagi, dan konseling menyusui bagi tenaga kesehatan.
Edukasi kepada masyarakat terkait 1000 hari pertama kehidupan untuk pencegahan stunting juga terus dilakukan. Pembentukan Tim Asuhan Gizi di puskesmas dan rumah sakit.
Orientasi penggunaan antropometri di Posyandu, dan orientasi makanan pendamping ASI (MPASI) bagi tenaga kesehatan serta kader. Pelaksanaan skrining anemia remaja putri, pemberian tablet darah bagi remaja putri, dan pelaksaan Posyandu remaja.
“Kita juga membentuk Kader Remaja DoReMiFaSoLaSiDo (Duta Remaja Anti Anemia, Fahami Sobat Langkah Awal Sehat Dari Diri Sendiri sebagai agen penggerak dalam kegiatan aksi bergizi di sekolah, dengan mengkampanyekan minum tablet tambah darah 1 kali seminggu bagi remaja putri, sarapan gizi seimbang dan aktivitas fisik,” jelasnya dr. Allin saat dihubungi terpisah.
Tidak hanya itu, untuk menekan angka stunting ini, Dinkes Tangsel juga melakukan pemeriksaan kesehatan calon pengantin di fasilitas kesehatan, skrining dan deteksi dini ibu hamil risiko tinggi, ibu bersalin dan bayi balita risiko tinggi, serta pemeriksaan kesehatan ibu hamil sesuai standar juga pemeriksaan USG dasar terbatas oleh dokter umum.
Langkah lain seperti Pekan Ibu Hamil Sehat di pusat perbelanjaan, pelaksanaan imunisasi, webinar gizi, pendampingan terhadap keluarga berisiko stunting hingga pembangunan jamban sehat bekerja sama dengan CSR juga menjadi bagian dari strategi menyentuh masyarakat secara langsung.
Berbagai sosialisasi juga dilakukan seperti KB Paska Salin, skrining penyakit menular dan penyakit tidak menular, penggunaan Buku Kesehatan Ibu dan Anak bagi masyarakat, serta Buku Kesehatan Ibu dan Anak Khusus Bayi Kecil bagi tenaga kesehatan.
“Penanganan stunting tidak cukup hanya dengan pemberian makanan tambahan, tetapi perlu pendekatan lintas sektor dan edukasi berkelanjutan dengan berbagai program yang sudah kita jalankan saat ini,” tegas dr. Allin.
Untuk memastikan semua program berjalan efektif, Dinkes Tangsel juga berkoordinasi dengan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Badan Perencanaan dan Penelitian Pengembangan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3), Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB).
Tidak hanya itu, bekerjasama pula dengan Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimta), Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR), Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) terkait konvergensi percepatan penurunan stunting.
Beragam upaya tersebut sebagai bentuk komitmen serius Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam mencegah hingga menangani permasalahan stunting di kota Tangerang Selatan.
“Satu keluarga saja terselamatkan dari stunting, itu artinya satu masa depan telah dijaga, dan kami ingin menjangkau sebanyak mungkin,” tambahnya. (adv)







