bantenraya.co | SERANG
Politik uang atau money politic menjadi temuan menjelang maupun selama masa kampanye berlangsung.
Hal itupun dinilai menciderai demokrasi, sehingga para masyarakat diminta untuk lebih bijak sebagai antisipasi praktik kecurangan ‘political buying’ tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengamat Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Mohammad Rizky Godjali mengatakan, dalam Pilkada maupun Pemilu di Indonesia, praktik jual suara atau ‘political buying’ hingga ‘money politic’ masih sering ditemukan, bahkan cukup marak di masyarakat, Senin, (30/09/2024).
Hal itu bukan hanya sekadar analisis, tetapi beberapa survei pun membuktikan jika praktik tersebut seringkali terjadi ketika musim politik.
“Jangan lupa, ada faktor lainnya yang menjadi temuan khas di Indonesia, adalah faktor kapital strategi political buying atau money politic itu masih marak di masyarakat. Bahkan, masih menjadi khas,” katanya.
Dia pun meminta baik kepada partai politik, tim pemenangan, hingga masyarakat untuk waspada dan menghindari kecurangan-kecurangan yang menciderai demokrasi di Indonesia.
“Karena dengan adanya praktik semacam itu dapat menciderai demokrasi. Walaupun memang mungkin akan sulit dihindari,” ujarnya.
Dampak dari beberapa faktor tersebut, dia menuturkan, akan dirasakan oleh masyarakat langsung karena kemenangan yang didapat bukan berasal dari kejujuran, melainkan kecurangan.
Sehingga, warga atau masyarakat perlu cermat dan bijak dalam memilih pasangan calon kepala daerah.
“Saya kira harus diwaspadai oleh semua pihak terkait perilaku yang kontradiktif terhadap nilai-nilai demokrasi. Tetapi yang mungkin semua calon akan memainkan itu, karena semua calon tidak akan bisa menghindar dengan ancaman money politic,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Jaringan Demokrasi Banten (JDB) Syaeful Bahri mengingatkan para Paslon Kepala Daerah di Kota Serang untuk tidak melakukan kesalahan ketika kampanye nanti, termasuk kampanye kotor atau ‘black campaign’.
Sebab, hal itu akan berdampak pada perolehan suara atau kehilangan suara pada saat pemilihan, karena pemilih di Ibu Kota Provinsi Banten saat ini dinilai lebih kritis dan rasional.
“Memang rata-rata pemilih di Kota Serang itu merupakan seorang yang cerdas dan rasional. Makanya, para paslon ini harus sangat berhati-hati ketika melakukan kampanye,” ucapnya.
Sehingga diperlukan kerja keras untuk menarik simpati serta kepercayaan masyarakat terhadap program dan visi misi Paslon, namun tidak dengan kampanye kotor atau ‘money politic’.
“Kalau tidak bisa, justru nantinya blunder ke paslon. Bahkan, dengan kesalahan kecil pun dapat berdampak besar, yaitu kekalahan,” ujarnya. (*)
Penulis : Nas
Editor : Chan







