bantenraya.co | TANGERANG
Tercatat pada 2025 kasus DBD di Puskesmas Sukamulya, Kabupaten Tangerang mengalami peningkatan. Pada Desember 2025 tercatat 19 kasus.
Hal itu menjadi perhatian serius Kepala Puskesmas Sukamulya, drg. Eko Hartati., MARS, untuk mencegah meningkatnya penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk itu, drg. Eko Hartai, mengajak kader juru pemantau jentik (jumantik) agar lebih aktif.
Sebab, tak sedikit warga Sukamulya yang tidak tahu terkait nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang membawa virus DBD tersebut.
“Jangan berhenti memantau perkembangan jentik di sekeliling kita, awasi dan basmi,” jelasnya.
Menurutnya, dengan pengendalian bebas jentik dari para kader jumantik dipastikan mampu menekan bahkan menghilangkan potensi meningkatnya kasus DBD di Kecamatan Sukamulya.
Kata dokter yang berdomisi di Desa Merak, Kecamatan Sukamulya ini, peran masyarakat juga dibutuhkan untuk peka terhadap perkembangan jentik nyamuk.
Dengan demikian, ia mengimbau kepada seluruh warga agar menerapkan 3M. Yakni menguras, menutup, dan mengubur.
Ikhtiar itu dinilai akan menjadi langkah awal yang dapat menghentikan perkembangan jentik nyamuk di lingkungan rumah.
“Cegah dari awal dengan 3M. Itu upaya yang mudah dan ampuh untuk menekan angka kasus DBD,” imbuhnya.
Untuk itu, ia meminta semua warga agar aktif memantau jumatik di rumah masing-masing, agar kasus DBD bisa ditekan.
Selain itu, kesadaran setiap masyarakat dan bantuan ketua RT dan RW agar selalu meningkatakn kebersihan lingkungan, dengan cara gotong royong.
“Terimakasih juga buat kepala desa yang telah mendorong kerjabakti disetiap RT dan RW. Menerapkan 3M dan kader Jumantik di setiap rumah, Insya Allah kasus DBD bisa ditekan dan tidak ada,” tegas drg. Eko Hartati.
Menurut drg. Eko Hartati, memasuki musim penghujan, Kecamatan Sukamulya merupakan daerah yang cukup rawan dengan kasus DBD.
Bukan tanpa sebab, wilayahnya yang terdiri atas delapan desa, terdiri dari Desa Sukamulya, Desa Benda, Desa Bunar, Desa Kubang, Desa Kaliasin, Desa Parahu, Desa Merak dan Desa Buniayu menjadi salah satu potensi penyakit DBD tinggi. Sehingga perlu peran ekstra.
“Keseriusan dalam menekan angka kasus DBD terus dilakukan secara ekstra, bahkan keterlibatan masyarakat sangat dinantikan,” tutupnya. (*)
Penulis : Den
Editor : Mas







