Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an LP3IA Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, dalam suatu pengajian kitab bersama para santri yang diunggah chanel YouTube kuli speed menjelaskan, agar berhati-hati jangan sampai sembarangan mencatut nama Allah saat memvonis orang lain.
Berikut keterangan Gus Baha:
Saya punya contoh, ini orang-orang Islam ektremis, apalagi yang juga memvonis orang bid’ah. Itu harus mengaji ulang di Shahih Muslim. Di Shohih Muslim itu ada kisah begini, ini Hadis Shohih ini tidak bisa tidak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada seseorang sedang sujud. Sujud itu kan sebaik-baiknya ibadah, terus orang yang sujud itu diinjak sama orang fasik, diinjak beneran kepalanya.
Setelah diinjak, si yang sujud tadi mangkel (marah), saking marahnya ia bilang: “Demi Allah, kamu tidak akan diampuni oleh Allah.”
Singkat cerita, di saat itu juga ada Nabi yang masih hidup, diberi wahyu oleh Allah.
“Katakan kepada fulan yang sujud, bagaimana mungkin dia mengatasnamakan sifatku pada seseorang hambaku? Beritahu dia, saya mengampuni orang yang menginjak dia dan sujud dia tidak saya terima.”
Dan itu,m semua Syurohul hadis sepakat, Allah itu tersinggung karena namanya dicatut. Sebab, Allah itu menamakan dirinya “Ghofuur”. Kemudian karena orang ini emosi, lalu nama Allah dicatut terus diterapkan, “Allah tidak akan mengampuni kamu”.
“Bagaimana mungkin Aku dipakai sumpah, ditarik-tarik nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni orang itu?”
Maka dari itu, ada ulama mengatakan, kalau kamu marah dengan orang mending bilang “Jancuk, Kakeane” itu lebih aman!!
Kalau kamu ditanya Allah, “Kenapa kamu kok bilang Jancuk?”
“Lah mengatasnamakan Engkau (Allah) tidak ada persamaannya.” Dijawab begitu saja, paham nggeh?
Tapi, kalau ukurannya kalian ya tidak ada hisabnya, kan kelirunya sudah banyak, jadi artinya sudah biasa.
Saya ulang lagi ya, kita kan tidak pernah tau tentang Allah, tapi yang jelas Allah menamakan dirinya sebagai Ghofuur.
Dan dalam syariat-Nya, siapapun itu, seburuk apapun dia, ada kemungkinan dia taubat sebelum mati, dan sebaik apapaun kita pun ada kemungkinan untuk su’ul khotimah. Dengan potensi seperti ini kamu berani mencatut nama Allah itu atas dasar apa coba?
Misalnya sekarang ada orang mencuri, koruptor, lalu dikejar KPK. Sebenci apapun kamu, bisa saja dia besok khusnul khotimah dan bisa saja yang menangkap besok su’ul khotimah. Siapa yang tahu?
Makanya kiai-kiai alim, setahu saya itu biasa saja berteman dengan koruptor. Ini bukan karena mereka koruptor ya. Kiai itu pemikirannya bukan seperti LSM.
Kalau pemikiran LSM kan, “fasik kok dikancani?! Ini bisa menjadi legalitas bagi koruptor, ini merupakan “perselingkuhan Agama dan kekuasaan”.
Kamu itu tidak tau rasanya jadi Ulama. Ulama itu tidak berani memvonis orang jelek. Bisa saja orang yang kamu vonis jelek sekarang, besok malah jadi shaleh, dan yang sekarang shaleh besok malah jadi fasik.
Kamu gak tau ceritanya Wahsyi? Wahsyi itu pembunuh Hamzah. Seperti apa coba perlakuan Allah kepada Wahsyi?, akhirnya kan dia taubat.Lalu seperti apa pribadi Tsa’labah? Paling rajin ke masjid, tidak pernah tidak sholat di shaf awal. Sampai-sampai dijuluki Hamamatul Masjid alias Merpatinya Masjid.
Akhirnya apa? Su’ul khotimah. Itu saja dia masih ditunggui Kanjeng Nabi. Lha kamu hanya ditunggui Musthofa? Haha.. Wah wes malah… Siapa yang ganduli (membela) kalau kamu su’ul khotimah?
Akhirnya, kiai-kiai itu berteman dengan orang-orang fasik ya tenang saja. Bukan kok melegalkan kefasikan, beliau-beliau hanya tidak ingin memvonis orang lain.
Seumpama ada orang yang diburu KPK datang ke sini, minta sambutan mengaji misalnya, ya malah saya suruh mengajar.
“Bagaimana caranya ‘menghindar’ dan macam-macam lainnya”.
Cuma nanti di akhir, saya suruh dia tunjukkan cara menghindari siksa neraka, bukan cuma menghindari KPK saja.
Tapi, tadi tentu orang yang sujud itu (yang mencatut nama Allah) tadi tetap bahaya.
Akhirnya yang sujud tadi diberi tahu Nabi lalu dia taubat, taubat dari memvonis dan, ya sama-sama khusnul khotimah akhirnya.
Tapi, ini pelajaran bagi kita. Mencatut nama Allah itu tidak mudah. Bagaimana anda begitu yakin?. (*)
Penulis : red







