WNI Beli Beras di Malaysia

Minggu, 25 Februari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | Bantenraya.co

Warga Indonesia yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia, Pulau Sibatik, Kalimantan Utara, lebih memilih untuk membeli bahan pangan di Malaysia. Karena harga di Malaysia jauh lebih murah ketimbang produk lokal.
Muliyati, pedagang warung yang didirikan di dekat patok perbatasan Indonesia Malaysia, Pulau Sebatik. Meski Muliyati merupakan warga negara asli Indonesia, namun ia mencoba peruntungannya dengan membuka warung makan di kawasan perbatasan, tepatnya di bagian negara Malaysia. Oleh karena itu, produk-produk yang dijualnya kebanyakan merupakan produk asli Malaysia.
Ia mengatakan, masih ada warga Pulau Sibatik yang menggunakan dua mata uang. Selain karena berada di perbatasan, ternyata uang ringgit lebih populer lantaran produk produk Malaysia, khususnya sembako lebih laku terjual ketimbang produk lokal sendiri.
“Dua-duanya saya pakai buat belanja (ringgit dan rupiah). Kalau di toko di sana, Sungai Nyamuk, 100% rupiah. Cuma di sini aja, yang perbatasan (pakai ringgit juga),” ujarnya, ditemui di warungnya, Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, dikutip.
Di jajaran harga sembako sendiri,selisih antara harga produk keluaran Malaysia dan Indonesia terbilang cukup jauh. Muliyati menyebut, produk beras Indonesia harganya bisa sampai Rp 130 ribu per 10 kg. Sedangkan harga beras Malaysia jauh di bawahnya, hanya sekitar Rp 90 ribuan.
Tidak hanya itu, menurutnya kebanyakan masyarakat perbatasan juga lebih memilih produk sembako lainnya seperti minyak, sayur mayur, hingga buah-buahan dari Malaysia karena akses dan ketersediannya yang lebih cepat ketimbang menjangkau produk-produk Indonesia di bagian daerah lain.
“Lebih murah, lebih enak dapatnya (produk Malaysia) daripada dari Surabaya (distributor barang). Tapi cintanya tetap Indonesia,” kata Muliyati.
Dari sisi belanja rumah tangga, menurutnya banyak juga petani setempat yang lebih memilih menjualnya ke Malaysia alias ekspor kecil-kecilan. Hal ini menjadi salah satu alasan yang membuat masyarakat mengantongi banyak ringgit.
“Petani jual hasil panen semua ringgit. Karena jual pisang, jual sawit, karet, ke sana (pengepul Malaysia). Ekspor. Boleh dikata 80% ringgit lah, hasil tani. (Jual ke Indonesia) jauh, ongkos kirimnya mahal,” ujarnya.
Pengalaman tak jauh berbeda juga dirasakan Nila, salah satu pemilik toko kelontong di Pulai Sebatik. Meski tokonya berjarak sekitar 1-2 km dari perbatasan, namun transaksi menggunakan ringgit juga masih kerap terjadi karena produk sembako Malaysia lebih laku terjual.
“Produk Malaysia (lebih laku) karena murah. Di sini prioritasnya yang mana yang murah, yang cepat laku,” sambungnya.
Oleh karena itu, menurut Nila, rata-rata toko di kawasannya menjual produk Malaysia karena permintaannya yang tinggi. Karena itulah, peredaran ringgit masih cukup banyak di wilayahnya.
“Semua toko hampir semua, rata-rata toko juga jualan produk Malaysia kayak minyak makan, kan ada lebih murah di sana. Di sana cuma Rp 16 ribu. Sedangkan barang Indonesia kurang lebih Rp 20 ribu. Bedanya lumayan jauh,” kata Nila, ditemui terpisah.
Begitu pula dengan beras. Meski beras Indonesia lebih enak dan lembut dibandingkan beras Malaysia yang keras, tapi produk tersebut tetap lebih laku lantaran harganya yang jauh lebih murah. Adapun para pedagang ini mendapatkan produk tersebut dari daerah Tawau, Malaysia.
“Dapat dari Tawau. Saya cuman pesan (lewat) HP saja, nggak datang (ke lokasi), cuma pesan online. Saya pesan, nanti kapal yang bawa. Kapal dari Tawau. Tapi kapal Indonesia sih, masuk dari sana,” jelasnya.
Wakil Bupati Nunukan Hanafiah mengatakan bahwa tantangan utama yang ada di Pulau Sebatik ialah menyangkut akses logistik. Akibatnya, harga produk-produk RI di Pulau Sebatik lebih mahal ketimbang Malaysia. Kondisi ini menjadi satu Pekerjaan Rumah (PR) besar bagi pihaknya.
“Sebenarnya kalau saja dari dalam negara atau Indonesia membantu mengatasi persoalan sembako dan lain-lain, dalam jumlah cukup, tentu kan orang tidak punya pilihan. Tetapi apabila hal ini tidak bisa terpenuhi, tentu kan jalan keluarnya cari ke tempat lain. Ini kan teori mudah sebenarnya. Hukum ekonomi. Ya masyarakat tidak dapat kita salahkan karena memang butuh pada saat itu dan harus cepat. Yang namanya sembako kan tidak dapat ditunda-tunda,” ujar Hanafiah, ditemui terpisah. (jr)

Baca Juga :  Harga Cabai di Pasar Sentiong Turun Jelang Nataru

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga :  Kenaikan Harga Beras Diprediksi hingga Maret 2024

Berita Terkait

Diplomat 12 Negara Jelajahi Wisata Banten
Pemkot Tangerang Buka Pelaporan LKPM Triwulan I 2026, Pelaku Usaha Diminta Taat
Penertiban Pajak Kendaraan Digelar, 85 Kendaraan Terjaring di Ciledug
Wagub Banten Ajak Kaum Perempuan Produktif Berwirausaha
Dominasi Ekonomi Banten, Kota Tangerang Berkontribusi Hingga 25,64 Persen
Tinjau Rumah Warga, Bupati Salurkan Bantuan Bedah Rumah
Kesempatan Terakhir Nikmati Diskon PBB Kota Tangerang
Ketum PBNU Kutuk Serangan AS-Israel Ke Iran
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 13:51 WIB

Diplomat 12 Negara Jelajahi Wisata Banten

Selasa, 7 April 2026 - 16:02 WIB

Pemkot Tangerang Buka Pelaporan LKPM Triwulan I 2026, Pelaku Usaha Diminta Taat

Selasa, 7 April 2026 - 15:49 WIB

Penertiban Pajak Kendaraan Digelar, 85 Kendaraan Terjaring di Ciledug

Selasa, 7 April 2026 - 11:54 WIB

Wagub Banten Ajak Kaum Perempuan Produktif Berwirausaha

Selasa, 7 April 2026 - 10:50 WIB

Dominasi Ekonomi Banten, Kota Tangerang Berkontribusi Hingga 25,64 Persen

Berita Terbaru

headline

Siaga Sebelum Terjadi, Damkar Latih Pegawai Hadapi Kebakaran

Kamis, 7 Mei 2026 - 15:14 WIB