bantenraya.co | Lebak
Akses jalan poros Desa Cibarani, Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak, Banten, yang sepanjang 4 kilometer, dalam kondisi sangat memprihatinkan. Jalan yang hanya terdiri dari bebatuan bercampur tanah ini menyulitkan kendaraan roda dua dan roda empat untuk melintas, bahkan sering kali menyebabkan kecelakaan.
Selain itu, kondisi kantor desa yang ada di desa ini juga tak kalah memprihatinkan. Bangunan kantor desa tersebut sudah mulai lapuk dan tidak terawat, sehingga mengkhawatirkan para warga yang memanfaatkan fasilitas pemerintahan di sana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melihat kondisi yang demikian, Muhammad Risambas, Ketua Investigasi Lembaga Pengawasan Reformasi Indonesia (LPRI) wilayah Jawa Barat – Banten, angkat bicara. Dalam keterangan tertulis yang disampaikan pada Sabtu (16/11/2024), Risambas menyatakan akan segera mengadukan masalah infrastruktur jalan dan kondisi kantor desa tersebut kepada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) RI agar bisa memperoleh bantuan.
“Kami dari LPRI wilayah Jawa Barat – Banten akan segera menyampaikan hal ini kepada Kemendes RI. Kami berharap camat sebagai pendamping desa di Kecamatan Cirinten juga harus turun langsung untuk memberikan pembinaan kepada desa-desa di pelosok,” ujar Risambas, yang kerap disapa Sambas.
Sambas menegaskan bahwa sesuai dengan fungsinya, camat harus memberikan arahan yang jelas kepada desa, baik dalam pengelolaan administrasi, anggaran APBDesa, hingga anggaran dari pemerintah daerah dan pusat, sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2016.
“Saya meminta kepada camat, pendamping desa, BPD, dan instansi pemerintah terkait untuk memberikan pengarahan dan pembinaan, terutama kepada desa-desa di pelosok, agar camat dapat melihat langsung kondisi desa binaannya, baik itu infrastruktur, kondisi perkantoran, pertanian, ekonomi, dan pemerataan pembangunan,” tambahnya.
Sambas juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi jalan poros Desa Cibarani yang melintasi beberapa kampung seperti Cijahe, Cinangka, dan Cikeper. Jalan tersebut merupakan jalur vital yang menghubungkan wilayah perbatasan Baduy, namun kondisinya rusak parah.
Ia menceritakan pengalaman saat melihat seorang pria berusia sekitar 54 tahun bersama anaknya yang masih berusia 8 tahun, bekerja sama menambal jalan dengan mengumpulkan batu dari bawah kolong jembatan menggunakan karung. Hal ini mereka lakukan untuk memperbaiki jalan yang sering menyebabkan kendaraan bermotor terjatuh.
“Hal itu sangat mengharukan, mereka dengan ikhlas memperbaiki jalan demi kenyamanan bersama. Saya merasa seharusnya pemerintah malu terhadap mereka, karena tanpa imbalan apa pun, mereka rela bekerja untuk memperbaiki jalan yang menjadi tanggung jawab pemerintah,” ujar Sambas.
Pernyataan ini menegaskan pentingnya perhatian pemerintah terhadap kondisi infrastruktur di desa-desa pelosok, yang mempengaruhi kualitas hidup masyarakat setempat. Sambas berharap, dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, perbaikan jalan dan fasilitas lainnya dapat segera terealisasi demi kemakmuran masyarakat Desa Cibarani. (Jat/eem/ris)







