bantenraya.co | LEBAK
Sebanyak 221 kepala keluarga (KK) korban banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, segera mendapatkan hunian tetap (huntap) setelah lima tahun menunggu. Pembangunan huntap dijadwalkan mulai dikerjakan pada September 2025.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Febby Rizki Pratama, mengatakan pembangunan huntap telah masuk dalam skala prioritas nasional. Hal ini diputuskan setelah rapat koordinasi antara pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Lebak menjadi daerah prioritas untuk dituntaskan penanganan pascabencananya. Mulai bulan ini (September 2025), BNPB akan menurunkan material maupun alat berat. Targetnya penyelesaian huntap bisa rampung tahun ini,” kata Febby, Rabu (3/9/2025).
Ia menjelaskan, pembangunan 221 unit rumah tersebut sepenuhnya dilaksanakan oleh BNPB. Pemerintah daerah hanya menyiapkan lahan.
“Anggarannya dari BNPB, mereka juga yang mengerjakan. Bentuk rumahnya konvensional dengan sistem kopel, dilengkapi fasilitas umum, jalan lingkungan, dan akses air bersih,” ujarnya.
Menurut Febby, pembangunan huntap sempat tertunda meski lahan telah tersedia sejak tahun lalu. Saat ini, persiapan pembangunan sudah mencapai 99,99 persen.
“Material sudah dipesan, alat berat juga siap dikerahkan. Tinggal menunggu koordinasi teknis di lapangan,” tegasnya.
Selain di Lebak Gedong, kata Febby, penanganan pascabencana juga akan dilakukan di Kecamatan Cipanas. Namun tahapan tersebut masih menunggu finalisasi rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana (R3P).
“Untuk sementara, fokus pertama di Lebak Gedong karena kondisi sosial dan lingkungan masyarakat di sana sudah sangat mendesak,” ungkapnya.
Banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Lebak pada awal 2020 lalu menyebabkan kerusakan parah, termasuk puluhan rumah warga yang hancur dan tak lagi layak huni. Sejak itu, korban bencana terpaksa bertahan di hunian sementara (huntara) dengan kondisi memprihatinkan.
Bangunan darurat tersebut sebagian hanya berdinding bambu, beratapkan terpal, dan berlantai tanah. Saat hujan turun, warga dihantui kekhawatiran rumah ambruk. Sedangkan pada musim kemarau, panas menyengat dan kelangkaan air bersih menjadi tantangan sehari-hari.
Kini, dengan dimulainya pembangunan huntap, harapan warga untuk menempati rumah layak huni mulai terbuka. (eem/dam)







