Ditutup Bupati, Ratusan Pekerja PT SLI di Balaraja Terkatung-katung

Senin, 2 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bantenraya.co | TANGERANG

Ratusan pekerja PT Sukses Logam Indonesia (SLI) di kawasan industri Oleg, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, saat ini nasibnya terkatung-katung dan terancam kelaparan. Pasalnya, mereka tidak bisa bekerja menyusul dihentikanya aktivitas pabrik peleburan logam tersebut oleh Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid sejak 17 Oktober 2025 lalu.

Salah satu pekerja PT SLI, Ade Majid mengaku, sejak aktivitas pabriknya dihentikan tiga bulan lalu, kehidupan ekonomi keluarganya morat marit. Selama itu juga dia bekerja serabutan untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“(Sejak pabrik ditutup) Saya jaga portal bang di kawasan industri, mencari sesuap nasi,” ujar Ade Majid saat ditemui di kawasan industri Oleg, Kampung Cengkok, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja, Sabtu (31/1/2026).

Ade mengungkapkan sangat membutuhkan biaya untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari, terutama makanan yang bergizi.

“Biarlah bapaknya makan apa adanya, tapi tidak buat anak saya bang, mereka harus mendapat asupan yang bergizi,” ungkap Ade yang telah berkeluarga dan dikarunia tiga anak ini.

Pria bertubuh gempal ini mengaku tidak mengerti dengan kebijakan Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid yang tiba-tiba mengeluarkan surat penghentian sementara aktivitas PT SLI, tempatnya menggantungkan hidup bersama sekitar 110-an pekerja lainnya.

“Katanya pabrik mencemari lingkungan bang, tapi lingkungan yang mana? Saya tinggal dekat pabrik, tapi gak ada pencemaran, kami sehat-sehat saja,” tutur Ade dengan mimik wajah serius.

Untuk membuktikan omongannya, Ade yang saat bekerja menjabat sopir forklif, mengajak wartawan untuk melihat kondisi rumahnya yang berdempetan dengan PT SLI. Ade bercerita, sebelum pabriknya ditutup bupati, kala itu dia bersama pekerja lainnya tengah asyik bekerja di bagian produksi. Tiba-tiba pihak Manajemen PT SLI memerintahkan seluruh pekerja untuk menghentikan kegiatan, mesin produksi kemudian dimatikan.

Baca Juga :  Waspada Fenomena “Super Flu” yang Sedang Viral: Gejala Lebih Lama dan Lebih Menular

“Kami tanya ke manajemen ada apa ini, kok tiba-tiba kami diminta berhenti. Kata manajemen pabrik, kita ditutup sama bupati,” tutur Ade Majid dengan mata menerawang tanpa arah.

Ade melanjutkan, manajemen kemudian mengumpulkan seluruh pekerja. Mereka diperlihatkan surat dari Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid bernomor 500.16.6.6/10401/X/DLHK/2025 tanggal 17 Oktober 2025 yang berisi tentang penghentian sementara kegiatan produksi.

“Sudah lebih tiga bulan ini bang kami tidak bekerja, tidak punya uang, kerja serabutan aja, kadang manajemen (PT SLI) masih perhatian menyuruh kami bersih-bersih rumput terus dikasih upah, tapi kan gak selamanya begitu bang, Kami ingin bekerja lagi di pabrik ini, anak istri kami butuh makan bang,” ucap Ade Majid dengan nada lirih.

Senada diungkapkan Reza Pramudia, pekerja PT SLI bagian pengawas produksi ini mengaku heran dengan kebijakan bupati yang dinilainya sepihak, dan menghentikan aktivitas pabrik tanpa mempertimbangkan nasib ratusan pekerjanya.

“Yang namanya sementara kan bisa dibuka lagi. Tapi ini sudah tiga bulan pak, tapi belum ada tanda-tanda akan dibuka lagi. Kami ingin bekerja lagi pak, keluarga kami butuh makan, kalau tidak dibuka lagi apakah pak bupati mau menanggung biaya hidup kami?” Ucap Reza dengan nada lirih.

Reza juga mengaku kerja serabutan selama tempatnya bekerja ditutup sementara. Namun hasilnya tentu saja tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.

“Anak saya masih kecil pak, masih butuh susu,” imbuh Reza yang tinggal persis di samping PT SLI Kampung Cengkok RT 03/02, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja.

Baca Juga :  Anies Kunjungi Pelelangan Ikan Kronjo, Nelayan Minta Solar Subsidi

Dia juga mengaku heran dengan isu adanya polusi bau dan kebisingan yang ditimbulkan dari pabrik tempatnya bekerja. Menurut dia, ada pabrik lain yang justru tingkat kebisingannya lebih tinggi namun tidak dipersoalkan.

“Saya yang berhadapan langsung dengan pabrik merasa tidak ada hal-hal yang katanya bisa membahayakan kesehatan,” imbuhnya.

Reza dan Ade serta ratusan pekerja PT SLI lainnya kini hanya bisa berharap Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid be

rlaku bijak dengan segera mencabut surat penghentian sementara kegiatan produksi PT SLI.

Terlebih, kata Reza, sebentar lagi mereka harus menghadapi bulan Suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, yang tentunya biaya kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari akan semakin meningkat.

“Tolong kami pak bupati, tolong perhatikan nasib kami, kami mohon cabut surat penghentian sementara pabrik tempat kami bekerja,” imbuh mereka hampir berbarengan.

Ketika disinggung apakah ada niat pindah bekerja, para pekerja PT SLI mengaku mereka memiliki keterbatasan baik dari sisi akademik, usia maupun persyaratan lainnya yang kemungkinan tidak bisa diterima perusahaan lain.

“Kalau di SLI mah syaratnya cuma punya KTP Balaraja, apalagi kalau warga Kampung Cengkok, Desa Sentul sekitar pabrik yang ngelamar, dan mau bekerja, pasti diakomodir,” kata Reza.

Pengakuan Reza Pramudia dan Ade Majid diakui Divisi HRD PT SLI, Doni. Dia menyatakan sekitar 75 persen pekerjanya berasal dari warga sekitar pabrik, terutama dari 14 RT dan 3 RW Kampung Cengkok, Desa Sentul.

“Beberapa pekerja ada yang dari luar, tapi mereka ditempatkan sebagai tenaga ahli, selebihnya berasal dari warga sekitar pabrik,” tandasnya (beb)

Berita Terkait

Soma Atmaja Dorong Budaya Hukum di Tingkat Desa
ASN Tangerang Digenjot Kompetensi Lewat Policy Brief
Tawuran Maut di Sukadiri, 14 Pelajar Ditangkap
Pemkab Lebak Matangkan Persiapan Seba Baduy 2026
DPRD Kab Tangerang Bakal Panggil Dinas Pendidikan Krisis Daya Tampung SMP Negeri
Gerak Cepat! Kebocoran Pipa di Cisauk Ditangani Perumdam TKR
Kejari Lebak Tegaskan Komitmen Berantas Korupsi
16 Prajurit Korem 052/Wkr Naik Pangkat, Laporan Korps Dipimpin Kasrem
Berita ini 50 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 13:52 WIB

Soma Atmaja Dorong Budaya Hukum di Tingkat Desa

Senin, 20 April 2026 - 16:22 WIB

ASN Tangerang Digenjot Kompetensi Lewat Policy Brief

Senin, 20 April 2026 - 16:17 WIB

Tawuran Maut di Sukadiri, 14 Pelajar Ditangkap

Jumat, 17 April 2026 - 13:45 WIB

Pemkab Lebak Matangkan Persiapan Seba Baduy 2026

Kamis, 16 April 2026 - 15:15 WIB

DPRD Kab Tangerang Bakal Panggil Dinas Pendidikan Krisis Daya Tampung SMP Negeri

Berita Terbaru

headline

Maryono: Pemkot Siap All Out Dukung Program Pusat

Selasa, 21 Apr 2026 - 19:00 WIB

headline

Generasi Qur’ani Tumbuh, STQ Neglasari 2026 Berjalan Sukses

Selasa, 21 Apr 2026 - 18:56 WIB