Bantenraya.co | LEBAK
Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) memastikan ketersediaan sembilan bahan pokok (sembako) di wilayah Kabupaten Lebak dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadan.
Kepastian tersebut diperoleh setelah Disperindag Kabupaten Lebak melakukan pemantauan intensif terhadap arus distribusi dan ketersediaan barang pokok di sejumlah pasar tradisional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kabupaten Lebak, Yani, mengatakan hasil pengecekan di lapangan menunjukkan pasokan sembako ke pasar-pasar masih berjalan lancar tanpa hambatan distribusi yang berarti.
“Kami telah melakukan pengecekan di lapangan, dan untuk ketersediaan sembako di pasaran wilayah Kabupaten Lebak dipastikan mencukupi menjelang Ramadan ini,” ujar Yani saat ditemui di Pendopo Pemkab Lebak, Selasa (03/02/2026).
Selain ketersediaan stok, Yani menyampaikan bahwa secara umum harga kebutuhan pokok masih relatif stabil. Meski demikian, ia mengakui terdapat fluktuasi harga pada sejumlah komoditas tertentu.
Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga adalah cabai rawit orange, yang tercatat naik sekitar Rp5.500 per kilogram dibandingkan harga sebelumnya. Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas minyak goreng yang trennya terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
“Kami terus melakukan pengawasan terhadap pergerakan harga, terutama komoditas yang mengalami kenaikan, agar tidak terjadi lonjakan harga yang ekstrem,” kata Yani.
Di tengah kenaikan beberapa komoditas, terdapat penurunan harga pada telur ayam. Harga telur yang sebelumnya bertahan di kisaran Rp31.000 per kilogram kini turun menjadi Rp27.000 per kilogram.
“Ada beberapa komoditas yang mengalami penurunan, seperti telur ayam yang sempat bertahan di harga 31 ribu rupiah per kilogram, kini turun menjadi 27 ribu rupiah per kilogram,” tambahnya.
Sementara itu, pedagang sembako di Pasar Rangkasbitung mulai merasakan dampak dari pergeseran harga, khususnya pada komoditas minyak goreng yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga dan pelaku UMKM.
Inayah, salah seorang pedagang sembako, mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak goreng terjadi di tingkat pengecer, baik untuk minyak goreng curah maupun kemasan bersubsidi Minyak Kita.
“Untuk minyak goreng curah yang awalnya dijual dengan harga 16 ribu per liter kini menjadi 17 ribu rupiah, sementara Minyak Kita naik dari 17 ribu menjadi 18 ribu rupiah per liter,” ujar Inayah.
Ia menilai kenaikan harga tersebut mulai berdampak pada daya beli masyarakat dan berimbas pada menurunnya volume penjualan pedagang.
“Kami berharap pemerintah dapat memperhatikan stabilitas harga sembako jelang puasa ini, karena akan mempengaruhi daya beli masyarakat dan berimbas kepada pemasukan pedagang,” katanya. (eem/dam)







